SYUKUR NIKMAT

A. Pengertian

Kata syukur secara harfiyyah/etimologi artinya adalah "berterimakasih" lafad syukur dalam berbagai bentuk terulang sebanyak 74 kali dalam Al-Quran.

Salah satu contoh yaitu firman Allah Q.S. Ibrohim (14): 7: "Jika kamu bersyukur pasti akan aku tambah (nikmat-Ku) untukmu dan jika kamu kufur maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih". Dalam ayat di atas dinyatakan bahwa kata syukur lawan katanya adalah kufur (menutupi nikmat). Syukur konsekwensinya adalah bertambah nikmat sedang kufur konsekwensinya adalah siksa.

Syukur dibagi menjadi tiga bagian:

  1. Syukur dengan hati, yaitu kepuasan bathin atas anugerah.

  2. Syukur dengan lidah, dengan mengakui anugerah dan memuji pemberian-Nya.

  3. Syukur dengan perbuatan, dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahan

B. Kepada siapa kita bersyukur

Pada prinsipnya segala bentuk syukur harus ditujukan kepada Allah SWT sebagaimana Firman-Nya: "Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku" (Q.S. Al-Baqarah: 152) Selain bersyukur kepada Allah, Al-Quran pun mengajarkan agar kita pun bersyukur kepada orangtua kita.

Sebagaimana firman Allah:

"Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada ibu-bapakmu. Hanya kepada-Kulah kamu kembali" (Luqman; 31: 14)

Dalam haditsnya Rasullullah SAW bersabda : "Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia maka dia tidak mensyukuri Allah" (hadits)

C. Bagaimana cara bersyukur

Allah berfirman dalam Al-quran tentang cara bersyukur dengan hati dan lidah (Q.S. An-Nashr (110):1-3). "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepadaNya sesungguhnya Dia adalah maha penerima Taubat".

Dalam ayat diatas dijelaskan bahwa cara bersyukur dengan hati dan lidah yang dicontohkan Allah adalah

  1. Tasbih (Subhanallah)

  2. Tahmid (Alhamdulillah)

  3. Istighfar (Astaghfirullahal adhim)

Sedangkan cara bersyukur dengan perbuatan adala sebagaimana firman Allah: "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai, dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya" (Ali Imron (3): 92) Peringatan Allah kepada orang mu'min

Allah berfirman dalam Al-quran Q.S. (63) : 9-11

"Hai orang-orang yang beriman janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah, barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, maka aku akan bersedekah dan aku akan termasuk orang yang soleh!" Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang ajalnya. Dan Allah maha mengenal apa yang kamu kerjakan" ( Al-Munafiqun (63) : 9-11).

Bila kita perhatikan ayat di atas maka jelaslah bahwa Allah SWT sangat perhatian sekali kepada hamba-hambanya di antaranya dengan banyak memberikan peringatan kepada kita, karena Allah sendiri tahu bahwa kita ini adalah mahluk yang suka berbuat salah dan lupa. Memang tidak bisa dipungkiri kebanggan manusia atas dirinya sendiri biasanya tidak lepas dari harta, kekayaan, pangkat, jabatan, tahta, ilmu, dan anak.

Harta

Harta memang biasanya dijadikan kebanggaan manusia padahal Allah banyak sekali memberikan contoh orang-orang yang lalai kepada Allah lalu hancur disebabkan oleh hartanya, salah satunya adalah Qorun (Q.S. 28 : 76-82 ) dan salah satu perkataan sumbangnya yang mengakibatkan kehancuran adalah : "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku" (Q.S. 28: 77) Juga banyak orang yang bangga dengan tahta, pangkat, jabatan dan ilmu, padahal semua itu hanyalah amanat nikmat yang harus dipertanggungjawabkan . Firman Allah: "Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenik-matan (yang kamu megah-megahkan itu) (Q.S. 102 : 8).

Anak

Anak adalah anugerah sekaligus amanat dan ujian bagi kita bila kita sukses dalam membimbingnya maka itu artinya kita telah punya investasi untuk masa depan, tapi bila kita salah mendidiknya maka itu akan menjadi bencana bagi kita. Selanjutnya Allah mengingatkan kepada kita supaya menginfakkan atas apa yang telah Allah berikan kepada kita sebelum datangnya Kiamat karena kalau sudah meninggal semua itu tidak akan ada manfaatnya sama sekali bagi kita. Dalam ayat itu Allah mensitir satu ucapan penyesalan orang yang lupa diri ketika hidup di dunia: "Ya Tuhanku mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku, maka aku akan bersedekah dan menjadi orang yang shalih". Padahal Allah sudah memperingatkan dalam Q.S. At-Takasur (102: 1-4): "Ber-megah-megah telah melalaikan kamu sampai kamu masuk kedalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui". Untuk lebih jelasnya marilah kita simak pernyataan Nabi Ibrahim Q.S. 26 : 88-89: "Pada hari tiada manfaatnya harta dan anak, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih".